Cicero, Mengenal Karya Sang Filsuf Dalam Percikan Mazhab Filsafat Stoa

Siapapun yang mencoba mendobrak atau mengubrak-abrik mazhab filsafat Stoa, tentu ia akan sulit untuk menghindari pemikiran filsuf Cicero yan...

Siapapun yang mencoba mendobrak atau mengubrak-abrik mazhab filsafat Stoa, tentu ia akan sulit untuk menghindari pemikiran filsuf Cicero yang memang sangat populer pada abad 4 SM (Sebelum Masehi) sampai dengan abad 2 M (Masehi). 

Bahkan karena saking populernya, Cicero kemudian dianggap sebagai Tokoh dan Pemikir periode akhir dengan julukan "Stoa Romawi" (Robert Audi, 1995). 

Cicero dilahirkan pada tanggal 3 Januari 106 SM, dengan nama lengkap yang diberikan kedua orangtuanya, adalah "Marcus Tullius Cicero", yang dalam bahasa Inggris dijuluki sebagai "Tully", yang meninggal pada tanggal 7 Desember 43 SM.

Cicero memiliki seorang istri yang bernama Terentia, yang dinikahinya di Arpinum dekat Napoli, Italia. Dan konon katanya, warisan kekayaan Terentia sangat banyak sehingga ketika menikah, Cicero menjalani hidupnya dengan baik, bahkan bisa membangun rumah di Bukit Palatium, tempat yang strategis untuk bepergian.

Bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi bahwa Cicero adalah filsuf dan orator handal yang memiliki keterampilan retorika yang sangat mumpuni. 

Sehingga, tidak sulit baginya untuk melakoni profesi sebagai: pengacara, penulis, dan negarawan Romawi kuno. Dan konon dalam pandangan masyarakat kuno, Cidero selalu dianggap sebagai ahli pidato Latin dan ahli gaya prosa (Red & Peny,668); (Christoper Rowe,dkk,2001); (Jacob Safra, dkk,1997).

Pemikiran Cicero sangat kental dengan aliran Platonisme dan Epikureanisme. Sehingga dasar pemikirannya banyak di rujuk para ahli dalam pemikiran hukum dan tata negara, serta kerapkali mendasari pemikiran David Hume dalam kajian filsafatnya pada abad ke-18.

Beberapa Bapa Gereja Latin yang berpengaruh di masanya, seperti Santo Agustinus dari Hippo, juga pernah mengatakan bahwa pemikiran Cicero dalam karya "Hortensius", merupakan salah satu pendorong beralihnya ia kepada Kekristenan (
Augustinus, 2009). 

Karya dan pemikiran Cicero turut pula dikagumi St. Hieronimus, yang mengalami kegelisahan karena pada saat itu mendapat penglihatan bahwa dia dituduh sebagai "pengikut Cicero dan bukannya Kristus" pada saat penghakiman khusus (Jerome, 1893)

Adapun tulisan-tulisan Cicero meliputi soal: retorika, pidato, risalah filsafat dan politik, serta dalam bentuk surat-surat. Dan sebagai seorang negarawan sejati, Cicero konsisten dalam menegakkan prinsip-prinsip republik dan khusus menyoroti kegagalan perang sipil yang menghancurkan Republik Romawi.

Nama 'Cicero'
Dalam Ensiklopedi Umum, nama "Cicero" berasal dari bahasa Latin "cicer", yaitu nama tanaman sejenis kacang polong yang kaya nutrisi. Nama tersebut dikenakan pada Cicero karena ujung hidungnya berbentuk miring (penyok) yang mirip buah kacang polong yang disebut 'cicer'. 

Nama Cicero bahkan dianggap lebih terkenal daripada kota Scauri dan Catuli sekalipun (Mortimer J. Addler, 2003). Cicero pernah menjadi "kuestor" yaitu pejabat publik di zaman Romawi Kuno yang mengurusi keuangan yang berkedudukan di kota Sisilia. Saat itu ia membuat sebuah piring perak untuk dipersembahkan kepada para dewa yang berukirkan dua namanya: "Marcus" dan Tullius". 

Sehingga pada setiap hari lahirnya tanggal 3 bulan pertama (Januari), para hakim di kota Roma selalu melakukan doa bersama untuk mengenang sang filsuf.

Latar Belakang & Pendidikan
Cicero dilahirkan di sebuah tempat bernama "Arpinum" yang sekarang bernama Arpino, yakni sebuah kota yang berjarak ± 70 mil sebelah tenggara kota Roma, Italia. (Christoper Rowe,dkk,2001)

Karena ayahnya adalah tuan tanah dan pejabat publik Romawi, tidak sulit bagi Cicero mengakses pendidikan di Roma pada saat itu, yang di bimbing langsung oleh Marcus Licinius Crassus, seorang anggota senat atau disebut Konsul di tahun 95 SM, yang juga merupakan salah satu orator terbaik masa itu.


Cicero muda sedang membaca, dilukis oleh Vincenzo Foppa (fresko) tahun 1464

Memasuki masa remaja, Cicero mulai mempelajari filsafat Stoa dan Epikureanisme dari para Filsuf Akademi yang terkenal pada masanya. Dan untuk mendalami filsafat, saat itu Cicero harus belajar dari empat aliran filsafat yang ada pada waktu itu. 

Dalam mempelajari filsafat, Cicero dibimbing oleh Epikurean Phaedrus (140-70 SM). Dan melalui bimbingan Diodotus seorang Tokoh Stoa yang buta di Roma († 60 SM) dan Phillo dari Larissa (160-80 SM) yang adalah ketua Akademi saat itu, Cicero mulai mendalami filsafat Stoa. 

Sejak tahun 79-77 SM, Cicero belajar retorika dan filsafat dari Posidonius di Rhodes, Yunani. Kemudian ia masuk Akademi di kota Athena untuk mempelajari filsafat dari Antiochus asal Ascalon. Sehingga Cicero pun bisa mengkombinasikan filsafat retorika gaya Romawi dengan gaya Yunani. 

Dan pada usianya yang ke-60 tahun, tepatnya tahun 45 SM, Cicero sanggup menguasai ilmu filsafat yang selanjutnya ia dipandang sebagai Tokoh paling berpengaruh dalam Mazhab Filsafat Stoa hingga detik ini.

Dalam perkembangan selanjutnya, yakni melalui pendampingan sepupunya, Quintus Mucius Ascaevola, yang merupakan seorang Imam (pontifex) yang pernah menjadi konsul di tahun 117 SM, Cicero juga sangat menghormati konservatisme nilai-nilai moderat dalam politik.

Karya
Sebagai seorang 
pembaru bahasa Latin terbesar di zamannya, karya dan pemikiran Cicero cukup banyak mempengaruhi peradaban ilmu pengetahuan pada masanya. Karya filsafat Cicero sangat terkenal dan berpengaruh diantaranya adalah yang tertuang dalam pidato-pidatonya yang berjumlah 57 tulisan, serta 17 fragmen lainnya.

Bahkan karya-karya Cicero dalam bidang filsafat, retorika, dan surat-surat lainnya, tercatat berjumlah ± 800 buah dan tersimpan baik hingga saat ini.

Bahkan beberapa sumber dunia mencatat bahwa pada Juli, tahun 43 SM, lebih dari 900 tulisan diselamatkan, yang 835 tulisan terdiri dari tulisan Cicero, dimana 416 tulisan dialamatkan kepada sahabatnya, seorang ksatria bernama Pomponius Atticus, dan 419 tulisan diperuntukkan kepada 94 orang lainnya, baik kerabat maupun kenalannya (Jacob Safra, dkk,1997).

Beberapa surat tidak dapat dilacak, salah satunya surat Cicero yang ditulis untuk Pompeius yang disebutkan dalam "Pro Sulla" dan "Pro Plancio" yang merupakan surat berisi konspirasi Lucius Sergius Catilina.

Terdapat pula 4 koleksi surat-surat Cicero yang dialamatkan kepada Atticus dalam 16 buku, dan juga kepada kenalan dan saudaranya yang berjumlah 16 buku. Sedangkan tulisan yang ditulisnya kepada Brutus, berjumlah 3 buku. Dan ada pula tulisan lainnya yang diperuntukkan kepada saudaranya, yang berjudul "Ad Quintum Fratem".

Selain karya-karya tentang filsafat dan tulisan yang terkait politik, sebagai penyair, Cicero juga menerbitkan puisi-puisi berbahasa Latin, di antaranya adalah: epos berjudul de Consulatu Suo (Inggris: On His Consulship) dan de Temproribus Suis (Inggris: On His Life and Times), yang merupakan tulisan yang dipakainya untuk mengkritik kekunoan tradisi penyembahan masyarakat Romawi pada zamannya.

Cicero sendiri menolak untuk disebut sebagai salah satu tokoh dari salah satu aliran-aliran seni kala itu, entah sebagai seniman dalam kelompok orang-orang Asia yang rata-rata kaya dan tampil secara berlebihan, atau kelompok yang diwakili oleh Quintus Hortensius, maupun mereka yang menyebut diri sebagai Atticist, misalnya Julius Caesar dan Brutus.

Adapun karya bergenre humor yang ditulis Cicero yang memuat prinsip-prinsip Stoanya adalah berjudul "Pro Murena", yang merupakan sebuah karya yang mendiskreditkan Cato yang ketika itu berpihak kepada para pengacara yang menyerang Clodia, dimana karya tersebut termuat dalam pidato berjudul "Pro Caelio" yang disampaikan Cicero pada tanggal 4 April, tahun 56 SM.

Pemikiran
Sebagai seorang filsuf, Cicero mulai menulis karya-karya filsafatnya pada tahun 54 SM. Karya awalnya berjudul "de Republica" dan diikuti "de Legibus" pada tahun 52 SM.

Kebanyakan tulisannya berisi tafsiran tentang sejarah Romawi dengan sudut pandang teori politik Yunani. Pemikirannya ini tentu didasarkan pada kondisi politik yang carut-marut dan yang membuat setiap orang menderita pada saat itu, yaitu ketika perang sipil terjadi, perang yang juga merenggut nyawa saudarinya. Cicero akhirnya mencurahkan seluruh pemikirannya atas duka dengan aktivitas menulis secara radikal. 

Terdapat 8 karya yang diselesaikan Cicero dalam dua tahun masa kehilangan tersebut, diantaranya ialah:
  1. de Academia;
  2. de Fibinus;
  3. de Tusculan Disputations;
  4. de Natura Deorum;
  5. de Divinatione;
  6. de Fato;
  7. de Officiis (Tentang Kewajiban); dan
  8. de Amicitia (Tentang Persahabatan).
Kecuali karyanya yang berjudul de Officiis, Cicero tidak pernah mengklaim bahwa tulisan-tulisannya merupakan tulisan otentik dari dirinya, dalam suratnya kepada Atticus, ia mengatakan, "Karya-karyaku merupakan transkrip, aku secara sederhana hanya menyumbang kata-kata, dan aku mencukupkan diri dengan hal itu".

Tujuan Cicero adalah menyediakan ensiklopedi filsafat bagi Romawi, negara yang ia cintai. Bentuk yang digunakan merupakan dialog dengan gaya yang lebih dekat kepada Aristoteles daripada Plato. Dan dalam kajian etikanya, Cicero cenderung menerapkan prinsip dogmatis Stoa yang dipengaruhi pemikiran Socrates. 

Ketika Cicero berkunjung ke Eleusis, pada saat kematian saudarinya, Tullia, pada tahun 45 SM, Cicero dianggap sebagai seorang agnostik, yang meskipun saat itu ia memiliki segudang pemahaman religius yang mendalam.

Nampak dalam sebagian tulisannya, Cicero selalu memposisikan dirinya sebagai seorang ateis, kecuali dalam karyanya berjudul "Somnium Scipionis" (mimpi-mimpi Scipio) yang berisi luapan perasaan religius, tepatnya terdapat pada bagian atau bab akhir "de Republica".

Secara personal, Cicero adalah orang yang sangat cerdas dalam bernalar, bahkan mampu memakai peristiwa-peristiwa dalam hidupnya sebagai pemacu karya-karya filsafatnya. Bukan hanya alasan personal yang membuat ia merampungkan sejumlah karya, namun kutipan dari "de Natura" berikut memperlihatkan keprihatinannya yang lain:
“Jika ada yang terheran-heran mengapa aku mempercayakan setiap refleksi menjadi tulisan pada tahap hidup saya ini, aku dapat menjawabnya secara sederhana. Tanpa aktivitas publik yang aku tanggung (jabatan atau tugas resmi kemasyarakatan), dan dalam situasi politik diktatorial yang tak terelakkan, aku berpikir bahwa tindakan patriotisme dengan menjelaskan secara rinci filsafat kepada para sesama warga negara sebagai tindakan evaluasi yang sungguh-sungguh kepada negara terhormat dan suci, yaitu demi sebuah ekspresi subjek (warga negara) yang luhur melalui literatur Latin.”— Cicero
Pemikiran Cicero tentang bagaimana menjadi seorang negarawan yang baik, tercermin dalam orasi-orasinya yang tidak berpusat pada sekadar pengetahuan berpidato, melainkan tentang bagaimana menjadi seorang orator terbaik, yang mampu memberikan rasa aman kepada rakyat, dan melalui orasinya ia dapat menyatukan rakyat.

Oleh karena itu, karya orasi de Oratore yang mementingkan karakter seorang pejabat kemudian menjadi landasan gagasan de Re Publica, dan de Legibus yang berbicara banyak tentang tugas seorang negarawan yang sejati.

Dialog yang ada dalam karya itu merepresentasikan Phillipus sebagai pencemooh otoritas senat dan tanggung jawab atas apa yang terjadi selama perang sipil puluhan tahun yang terjadi kemudian.

Bagi Cicero, pidato harus didedikasikan sebagai alat untuk pelayanan publik. Cicero memang negarawan yang sangat berbakti, dalam de Re Publica, kata Cicero kepada saudaranya, adalah "tentang kondisi terbaik dari sebuah kota dan warga negara yang paling baik".

Cicero banyak sekali bicara tentang demokrasi, keadilan rakyat, hukum alam sebagai acuan perilaku kepentingan manusia. Bagi Cicero etika warga negara sama pentingnya dengan sistem politik. Kelangsungan sistem politik akan tergantung pada etika politik: negarawan memelihara kota dengan keputusan yang bijaksana dan contoh moral.

Bagi Cicero, menjadi negarawan yang patriotis adalah segala-galanya, bahkan ganjarannya adalah surga. Tugas politik bagi Cicero adalah suci, yang dibebankan Tuhan kepada manusia, seperti ditulis Cicero dalam dialog kepada Scipo Africanus, kakeknya:

“Ketahuilah Africanus, jalan masuk ke surga terbuka bagi orang yang berjasa kepada negaranya, meskipun sejak anak-anak aku mengikuti jejakmu dan ayahku sehingga tidak jauh dari kemasyuranmu, kini ketika ganjaran besar terungkap padaku, aku akan terus berjuang dengan keras”— Cicero dari Arpinum
Di sini, Cicero sebagai filsuf tampak mengeksploitasi doktrin Plato tentang keabadian jiwa untuk memperkuat cita-citanya akan pengabdian patriotis, tidak perlu risau jika seseorang mati demi kepentingan negara, sebab yang mati hanya tubuh, sedangkan jiwanya tetap abadi

Etika Stoa
Karya Cicero yang membawa pengaruh terlama dan terpenting adalah Tentang Kewajiban (de Officiis), yaitu tulisan dengan semangat Stoa, yang banyak membahas tentang perhatiannya sepanjang periode krisis personal manusia dan krisis politik.


Menurut Cicero, bahaya bagi masyarakat adalah jika ambisi pribadi sangat mendominasi kehidupan mereka. Dalam hal ini, manusia perlu menyadari bahwa sebuah pelayanan publik akan terlaksana dengan baik jika kepentingan pribadi ditekan sedemikian rupa sehingga kepentingan publik menjadi yang utama.

Tulisan terkenal Cicero berjudul de Officiis memuat semangat Stoa tentang etika katekontik, yaitu tindakan yang tepat dan terbaik didasari kesadaran terdalam manusia akan tugas kebaikan yang melekat padanya dalam menunaikan tanggung jawab diri demi kebaikan masyarakat. Terdapat tugas sosial yang melekat dalam setiap warga negara. 

Dalam peristiwa konflik, Cicero menetapkan sebuah prosedur:
“Orang yang mengambil sesuatu dari orang lain dan meningkatkan keuntungannya sendiri dengan mengorbankan keuntungan orang lain lebih buruk daripada kematian, daripada kemiskinan, daripada penderitaan yang mungkin menimpa tubuh atau hak milik eksternal lainnya. Alam dengan hukumnya menetapkan bahwa seorang manusia harus bersedia mempertimbangkan kepentingan orang lain, siapapun ia, dengan alasan mendasar yakni karena ia adalah manusia.”— Cicero dalam de Officiis
Selanjutnya, menyikapi warisan dari keberanian tradisi Romawi dalam kemiliteran, dan warisan Yunani yang mengatakan bahwa doxa (kejayaan dan opini) adalah berbahaya dan tidak berharga, Cicero mengakomodasi keduanya dengan berkata: 
“Jiwa besar tampak dalam dua hal sikap: tidak memperdulikan hal-hal eksternal (kekayaan, nama baik, prestise jabatan), dalam keyakinan bahwa orang seharusnya tidak memuji, memilih, dan mengejar apa pun kecuali kehormatan dan seharusnya tidak tunduk kepada manusia, hasutan jiwa atau kekayaan”— Cicero dalam de Officiis I.66-7
Di dalam diri manusia terdapat emosi yang baik, yang disebut eupatheia (bebas dari hasrat personal), Cicero menyebut constatiae (bahasa lain dari konstitusi) yang mengatakan bahwa negara yang kukuh tidak boleh dikendalikan perilaku manusia yang berhasrat berlebih-lebihan.

Sepanjang ada nafsu, selalu ada keinginan yang berlebihan; sejauh ada ketakutan selalu ada alasan untuk menghindar; dan sejauh ada kesenangan, selalu ada kegembiraan.

Namun kumpulan perasaan itu hanya dapat dimengerti oleh para sophis (orang yang berlaku bijaksana), yang hanya punya nalar yang lurus. Menurut orang bijasana, tidak ada dorongan yang dapat dibenarkan benar dari penderitaan mental, misalnya orang yang menderita sekalipun tidak dibenarkan mencuri.

Seorang bijak harus menerima segala peristiwa tak terelakkan pada dirinya, dan tidak ada yang buruk secara moral dalam menyediakan sebuah sebab bagi tekanan yang ada dalam diri manusia.

Jadi, persoalan manusia terhadap segala dorongan atau impulsnya, bukan pada hal di luar diri, melainkan dalam dirinya sendiri. Itu mengapa, ajaran tentang moral dalam Stoa yang dianut oleh Cicero menduduki posisi paling penting dan merupakan tindakan luhur. 

Masa-Masa Akhir
Pada akhir masa hidupnya, khusus dalam kajian etika, Cicero mengkritik tradisi doktrin Epikuros, Stoa, dan Peripatetik (pengikut Aristoteles) dalam karya "On Ends" yang bicara tentang pandangan mereka terhadap kematian, penderitaan, dan emosi yang tidak masuk akal.

Selanjutnya dalam pandangannya tentang kebahagiaan, Cicero menulis karyanya berjudul "Tusculan Disputations". Pada masa akhir hidupnya dalam karya "On Duties", Cicero berpijak pada prinsip Stoa, yang pada akhirnya sang filsuf pun berseberangan dengan pandangan filsafat Epikureanisme.

(Oleh. Abdy Busthan)

Daftar Rujukan: 
  • Christoper Rowe, Malcolm Schofield, Simon Harrison, and Melissa Lane. (2001). Sejarah Pemikiran Politik Yunani Romawi. Jakarta: PT. Grafindo Persada, Hal. 562-608
  • Jacob E. Safra; James E. Goulka. (1997). The New Encyclopǽdia Brittanica, Volume. 3, Micropǽdia. London: Enciclopǽdia Britannica, Inc, hal. 313-315
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Cicero

KOMENTAR

BLOGGER: 1
Loading...

EMAIL NEWSLETTER$desc=Subscribe to receive inspiration, ideas, and news in your inbox

Name

AGAMA DAN FILSAFAT ARTIKEL ANDA BUKU DAN JURNAL COVID-19 DAERAH DESTINASI WISATA GAYA HIDUP HEADLINE HUKUM DAN KRIMINAL HUMOR INTERNASIONAL MOTIVASI NABIRE NASIONAL OLAHRAGA KESEHATAN PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI PUISI & CERPEN Sains dan Humaniora SOSIAL DAN POLITIK TENTANG CINTA UPDATE VIDEO
false
ltr
item
NABIRE.INFO: Cicero, Mengenal Karya Sang Filsuf Dalam Percikan Mazhab Filsafat Stoa
Cicero, Mengenal Karya Sang Filsuf Dalam Percikan Mazhab Filsafat Stoa
https://1.bp.blogspot.com/-HLRN0kQ6fAc/XyN4CxFNiiI/AAAAAAAAAJs/6yJdoXVwGe0CC4pXQ7NjGda3ZWAK98oqgCLcBGAsYHQ/s640/3ce9c3e9-33d7-457b-9d11-c19fe66d6671%2Bcopy.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-HLRN0kQ6fAc/XyN4CxFNiiI/AAAAAAAAAJs/6yJdoXVwGe0CC4pXQ7NjGda3ZWAK98oqgCLcBGAsYHQ/s72-c/3ce9c3e9-33d7-457b-9d11-c19fe66d6671%2Bcopy.jpg
NABIRE.INFO
https://www.nabire.info/2020/07/cicero-mengenal-karya-sang-filsuf-dalam.html
https://www.nabire.info/
https://www.nabire.info/
https://www.nabire.info/2020/07/cicero-mengenal-karya-sang-filsuf-dalam.html
true
5556882474248109387
UTF-8
Not found any posts LIHAT SEMUA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS LIHAT SEMUA BERITA TERKAIT LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy